Proyek Palapa Ring, Model KPBU Pertama dan Tercepat

Diposting pada

Proyek Palapa Ring merupakan model Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) pertama dan tercepat dalam eksekusi. Hal itu disampaikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara dalam Bincang Santai bersama Menteri Kominfo di Kantor PT PII, Gedung Capital Place, Jakarta, Senin (19/11/2018).

“Ini model baru, banyak yang belum memahami. Ini termasuk KPBU yang pertama dan tercepat untuk eksekusinya. Tidak dalam satu tahun kita sudah bisa tanda tangan financial closing. BAKTI dapat penghargaan,” tutur Rudiantara.

Menteri Kominfo menjelaskan melalui Palapa Ring, Kementerian Kominfo membangun infrastruktur untuk akses internet cepat. “Investasi di bidang infrastruktur selalu sifatnya jangka panjang, low return, high risk. Karenanya dimana-mana, infrastruktur itu tanggung jawab pemerintah. Jadi kalau apa-apa infrastruktur sudah diberikan ke swasta tanpa ada insentif, tidak ada pihak swasta yang mau membangun” jelasnya.

Menteri mencontohkan soal karakteristik pembangunan infrastruktur dalam aspek pendanaan dan penggunaan oleh rakyat. “Kalau jalan tol mau berapa orang bayarnya? Kalau bayar jalan tolnya mahal, orangnya sedikit. Kalau bayarnya murah, balik modal atau tidak. Itu tipikal dari infrastruktur,” paparnya.

Lebih lanjut, Rudiantara mengatakan pembanguan akses internet cepat atau broadband memiliki karakteristik yang sama dengan infrastruktur lainnya.  “Itu hampir sama dengan infrastruktur broadband/ internet berkecepatan tinggi. Itu tanggung jawab pemerintah (transmisinya). Mengapa? Karena di strukturnya, operator itu tidak diwajibkan ada di seluruh Indonesia. Jadi mereka selalu fokusnya bisnis orientasinya. Namun demikian karena harus ada dimana-mana, mereka memberikan kontribusi. Kontribusinya namanya KPU (Kewajiban Pelayanan Umum) atau Universal Service Obligation,” paparnya.

Melalui pembangunan akses internet cepat, Menteri Rudiantara mengharapkan akses internet di seluruh Indonesia sama, tidak ada perbedaan kecepatan dan harga.

“Kita di Jakarta pakai internet throughput-nya 7MBps. Ini saya pakai data yang lama (Open BTS). Di Papua, di Maluku throuhput-nya cuma 30KBps, 1/23 dari kita yang di Jakarta. Sudah gitu, bayarnya lebih mahal. Waktu pertama kali saya masuk jadi menteri mahalnya dua kali. Kita maunya sama lah di Indonesia, tidak beda-beda,” harapnya.

Menteri Rudiantara mengatakan ada kebutuhan membangun di daerah-daerah yang remote sebagai prioritas Pemerintah. “Kenapa tidak operator yang membangun? Karena backbonenya, jaringan tulang punggungnya mahal sampai kesana,” ungkapnya.

Mengenai pembangunan Palapa Ring saat ini menurut Rudiantara sudah mendekati 100% untuk semua kawasan. “Pembangunan dibagi tiga, Barat, Tengah, dan Timur. Yang Barat, April sudah beroperasi. Di Tengah sudah 99,5%, tinggal integrasi dan testing. Yang Timur targetnya belakangan karena kontraknya belakangan, statusnya 78%,” rincinya.

Bagaimana membangunnya?

Menurut Menteri Kominfo, pendanaan Proyek Palapa Ring tidak menggunakan pendanaan sendiri dari APBN saja. Hal itu dilatari oleh adanya dua pertimbangan, yaitu mengenai manfaat dari aspek resources dan governance.

“Kami tidak melakukan pengadaan berdasarkan Perpres 54 (tentang pengadaan barang dan jasa, red). Biasanya kementerian suka pengadaan sendiri. Kita tidak! (Pertimbangannya) Pertama kalau distruktur dengan KPBU atau PPP (Public Private Partnership), kita bisa punya akses kepada resources yang macam-macam. Kalau Pepres 54, terbatas resources-nya. Kalau kita struktur KPBU, resourcesnya banyak benar dan kita bisa beli expertise,” jelasnya.

Pertimbangan kedua mengenai governance, menurut Rudiantara model KPBU memiliki tata kelola yang lebih bagus. “Yang kedua governancenya jauh lebih bagus. Ini kan strukturnya seperti build, operate, and transfer. Jadi pemenangnya membangun, mengoperasikan, kemudian setelah tahun ke-15 ditransfer ke pemerintah” tambahnya.

Menurut Rudiantara, keberadaan skema penjaminan membuat governance proyek lebih bagus. “Penjaminnya adalah PII (Penjamin Infrastruktur Indonesia). Jadi alasannya karena governancenya jauh lebih bagus kemudian kita punya akses the best resources available,” jelasnya.

Jelang akhir Bincang Santai, Menteri Kominfo menjelaskan kembali kelebihan Proyek KPBU Palapa Ring terutama dari aspek pembiayaan. Menurutnya, tiga Proyek KPBU Palapa Ring: Barat, Tengah, dan Timur setelah semua selesai ditandatangani selanjutnya menggunakan pendekatan project finance.

“Proses penanganannya berbeda karena kita harus bisa bisnis dengan pemenang tender karena struktur pengadaannya KPBU atau PPP tapi struktur keuangannya yang disebut project finance. Itulah kelebihan KPBU dan nanti dibayarnya berdasarkan availability payment. Mekanisme ini merupakan mekanisme yang baru untuk di pemerintahan. Sekarang di beberapa kementerian sudah mulai menggunakan strukturnya KPBU dan project finance,” katanya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *