Kepolisian AS Miliki 117 Juta Database Wajah

Diposting pada

Laporan ini mencatat bahwa tidak ada negara bagian yang telah mengeluarkan undang-undang yang komprehensif untuk menentukan parameter tentang bagaimana pengenalan wajah harus digunakan dalam penyelidikan penegak hukum. Hanya segelintir departemen di seluruh AS yang secara sukarela memberikan batasan terhadap pencarian sehingga memerlukan kecurigaan atau mengharuskan database tersebut hanya digunakan dalam investigasi kejahatan yang serius.

Laporan ini juga menimbulkan kekhawatiran yang tak terduga tentang potensi bias rasial di database pengenalan wajah. Lembaga penegak hukum AS telah dan dalam banyak kasus, berpendapat bahwa alat biometrik mengurangi polisasi ras (penangkapan berdasarkan ras). Namun, komputer tidak tahu arti sosial dari ras atau gender, komputer hanya mampu mencocokan foto berdasarkan fitur analisis numerik dan pola.

Penelitian telah menunjukkan bahwa algoritma pengenalan wajah tidak berimbang sebagaimana tampaknya. Tergantung pada set data yang digunakan untuk melatih sistem pembelajaran mesin, mereka dapat menjadi jauh lebih baik untuk mengidentifikasi orang dari beberapa ras daripada ras yang lain. Sebagai contoh, beberapa penelitian menunjukkan bahwa sistem pengenalan wajah di Amerika Serikat memiliki akurasi yang lebih rendah ketika mencoba untuk mengidentifikasi orang Afrika Amerika. Ini artinya kemungkinan besar akan sangat merugikan orang Afrika Amerika sebab sistem pengenalan wajah ini ternyata bias gender. Itu artinya akan banyak sekali orang Afrika Amerika yang diindentifikasi oleh sistem pengenalan wajah ini dan mereka belum tentu bersalah, tetapi kemungkinan tertangkap karena wajahnya yang ada di database pengenalan wajah.

Sumber: Internet sehat Wired, 16 Maret 2017

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *