Telkomsel Uji Coba 5G di Ajang Asian Games 2018

Diposting pada

Operator telekomunikasi Telkomsel menggelar uji coba teknologi seluler generasi kelima (5G) di ajang Asian Games 2018 yang belokasi di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, pada 18 Agustus – 2 September. Telkomsel yang berperan sebagai official mobile partner Asian Games 2018 ingin menyuguhkan pengalaman pertama menggunakan teknologi 5G di Indonesia.

Pada momen tersebut, pengunjung pun dapat mengenal dan merasakan langsung implementasi dari teknologi revolusioner melalui berbagai perangkat yang dilengkapi dengan teknologi 5G. antara lain live streaming. Football 2020, future driving, cycling everywhere, dan autonomous bus di booth Telkomsel 5G Experience Center

“Kami turut mensupport ajang Asian Games 2018 dengan teknologi 5G. Nantinya, pengunjung boleh mengalami secara langsung penggunaan teknologi 5G di booth yang kami sediakan. Uji coba teknologi 5G ini akan menjadi langkah awal untuk komersialisasi teknologi 5G di masa yang akan datang,” kata Ririek Adriansyah, direktur utama Telkomsel di SUGBK, Jakarta, Jumat (10/8) pekan lalu.

Dalam uji coba tersebut, diperlihatkan kecepatan (speed) teknologi 5G yang jauh lebih baik dibandingkan dengan kecepatan teknologi seluler generasi keempat (4G) yang sekarang lazim dirasakan masyarakat perkotaan di Indonesia. Kecepatan 5G mencapai sekitar 16,60 Gbps dibandingkan dengan 4G yang hanya mencapai 0,30 Gbps. Artinya, kecepatan teknologi 5G mencapai sekitar 16 kali lipat dibandingkan dengan 4G.

“Karena teknologi 5G dibutuhkan untuk hal-hal yang mission critical, maka latency-nyz harus benar-benar rendah. Untuk latency hanya di bawah 1 millisecond. Dengan latency yang sangat rendah tersebut, 5G bisa mengetikkan mobil tanpa awak, ro-botik, dan perangkat critical lainnya.” jelasnya.

Menurut dia, secara teknologi. Telkomsel sudah siap untuk menerapkan teknologi 5G di Tanah Air. Namun, di sisi lain, penerapan teknologi 5G sangat membutuhkan kesiapan ekosistem. Apalagi, hingga saat ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) belum menetapkan lisensi frekuensi untuk teknologi 5G karena masih lebih ingin mengoptimalkan penyebaran wilayah jangkauan 4G yang belum merata.

“Komersialisasi 5G tergantung spektrum frekuensi yang dirilis Kemenkominfo. Namun, untuk uji coba ini, kami menggunakan band frekuensi 28 Ghz. Frekuensi untuk uji coba ini sudah mendapatkan izin dari Kemenkominfo,” tutur Ririek. Dia juga menyampaikan,

apabila teknologi 5G sudah mendapat izin untuk komersialisasi di Tanah Air, perpindahan dari teknologi 4G ke 5G akan berjalan lebih smooth jika dibandingkan dengan migrasi dari 3G ke 4G. Namun, dari sisi biaya, kemungkinan akan lebih mahal pada tahap awal. Tetapi, setalah itu, biayanya akan lebih murah. “Shifting teknologi 4G-5G kan sudah menggunakan pola virtualisasi dan juga automatisasi. Jadi, migrasinya akan berjalan smooth. Tetapi, pada tahap awalnya akan lebih mahal, setelah itu akan turun,” pungkas dia.

Industri 4.0

Pada April 2018, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara sudah menyampaikan bahwa pemerintah telah mulai menyiapkan uji coba infastruktur jaringan 5G untuk mendukung pelaksanaan revolusi industri 4.0 pada 2020. Industri lil ditandai dengan penggunaan teknologi super canggih pada skala industri untuk menopang operasional dan produksi.

Dia menegaskan, pada 2020, kom- ersialiaasi 5G di Tanah Air pada tahap awal akan diimplementasikan di dunia industri dan belum akan dijual kepada konsumen ritel (perorangan). “Kita fokus di infrastruktur, khususnya ke 5G. Tapi saya sampaikan, belum bisa untuk consumer,” kata Rudiantara di Jakarta.

Dia memastikan, infrastruktur jaringan 5G akan dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan industri di kawasan dan sektor tertentu, seperti industri pengolahan (manufaktur) yang mempunyai skala bisnis besar. “Kita pilih di kawasan industri tertentu dan laksanakan uji coba di 2020. Pasarnya industri dengan skala bisnis yang bagus seperti manufaktur.” tambahnya.

Namun. Rudiantara belum memastikan kawasan industri dan industri tertentu yang akan menjadi proyek uji coba jaringan 5G pada 2020. Hanya saja, penyiapan frekuensi 5G sudah mulai dilakukan sejak 2018 ini.

3 Frekuensi

Masih pada April 2018, Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Ismail juga sudah menyampaikan, sebanyak 3 pita frekuensi disiapkan untuk layanan teknologi 5G ke depan di Indonesia, yakni 3,5 GHz, 26 GHz, dan 28 GHz. “Jadi, itu band 3.5 GHz, 26 GHz, dan 28GHZ. Kami mengikuti kesepakatan dunia,” tutur Ismail.

Menurut dia. band frekuensi untuk layanan 5G mengikuti kesepakatan dunia, sehingga Indonesia tidak dapat menentukan sendiri. Apabila berbeda dengan kesepakatan dunia, perangkat khusus dibutuhkan dan akan memerlukan biaya yang lebih mahal. “Kami ingin perangkat murah sama dengan yang digunakan negara lain. Jumlah yang diproduksi besar, sehingga biayanya lebih murah,” katanya.

Dia juga menegaskan, layanan 5G di Tanah Air digunakan untuk mission critical, atau yang membutuhkan jeda sangat rendah, yakni di antara komunikasi transkrip dan di CPU lebih cepat

Sumber Berita: Investor Daily (13/08/2018)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *