Menkominfo: Sayangi Pulsa, Jangan Sebar Hoaks!

Diposting pada

kominfo rudiantara santun bermedia info publik 200x135 - Menkominfo: Sayangi Pulsa, Jangan Sebar Hoaks!Malang, Kominfo – Hoaks menjadi ancaman serius bagi bangsa. Bahkan bisa memecah belah masyarakat. Maka dari itu, siapapun harus sadar bahwa berita-berita bohong adalah musuh bersama.

Pesan tersebut disampaikan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara saat menghadiri Orasi Budaya bertajuk “Santun Bermedia untuk Pemilu Damai” di Gedung Kesenian Gajayana, Malang, Sabtu (16/03/2019) malam.

Kegiatan digelar atas kerjasama antara Kaukus Media dan Pemilu, dengan Kementerian Kominfo dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Dalam sambutannya, Rudiantara menitipkan pesan untuk berperang melawan hoaks dan ujaran kebencian. Terutama yang berkaitan dengan Pemilu Serentak 2019 pada 17 April mendatang.

Menteri Rudiantara mengingatkan, daripada membuang-buang pulsa untuk menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, lebih baik pulsa digunakan untuk berbagi informasi positif dan edukasi.

“Khususnya para generasi milenial yang lebih banyak menggunakan media sosial. Harus bijak dan hati-hati. Ada beberapa hal yang saya titip ke Arema (Arek-arek Malang). Sayangilah pulsa kita. Eman-eman, mengapa? Tiga tahun, empat tahun yang lalu kalau telepon yang menelepon yang bayar, tapi yang ditelepon tidak bayar,” tutur Rudiantara

Lanjut Menteri Kominfo menyatakan, media sosial saat ini berkembang begitu cepat. Beberapa tahun ke belakang, hanya orang yang menelepon yang bayar dengan mengeluarkan pulsanya.

Namun hal itu tidak lagi idijumpai di era digital saat ini. “Sekarang ini era-nya data, karena yang telepon bayar dan yang ditelepon juga bayar, yang mengirim foto bayar yang menerima foto juga bayar, yang ngirim video bayar yang menerima video bayar, bayangkan kalau kita menerima foto, video dan teks yang sebetulnya isinya tidak benar, itu bisa ghibah atau fitnah jadi kita akhirnya rugi dua kali,” ungkap Rudiantara.

Rudiantara menjelaskan, bergunjing hingga fitnah dipicu lantaran informasi yang tidak positif. Informasi itu kemudian menyebar dan akhirnya menyesatkan.  Selanjutnya, Rudiantara menyontohkan, dalam ajaran agama Islam diajarkan untuk mengedepankan budaya tabbayun.

“Jadi kalau di satu grup (Whatsapp) ada 100 orang anggota, berarti kita ngajak fitnah 100 orang di grup itu, hati-hati jangan sembarangan kita menyebarkan sesuatu, kalau tidak yakin di Islam diajari harus tabayyun, kedua harus tabbayun dan ketiga harus tabbayun,” pesan Rudiantara.

Perhelatan orasi budaya ini juga dIhadiri Wali Kota Malang Sutiaji, Kaukus Media dan Pemilu Agus Sudibyo, perwakilan dari Polres Jawa Timur, serta turut dimeriahkan oleh budayawan nasional Sujiwo Tejo dan band local D’Kross.**

sumber :kominfo.go.id, 18 Maret 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *