Duka Cita Menkominfo untuk Bapak Teknologi Indonesia

Diposting pada
bj 1 200x135 - Duka Cita Menkominfo untuk Bapak Teknologi Indonesia
FOTO DOKUMENTASI. Mantan presiden BJ Habibie menunjukan foto dirinya bersama pesawat hasil karyanya N-250 ‘Gatotkaca’ usai membuka pameran foto ‘Cinta Sang Inspirator Bangsa Kepada Negeri’ di Museum Bank Mandiri, Jakarta, Minggu (24/7/2016). Pameran foto tersebut berisi tentang perjalanan hidup BJ Habibie hasil dokumentasi The Habibie Center dan karya BJ Habibie sendiri yang berlangsung hingga 21 Agustus 2016. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nz/foc.

Jakarta, Kominfo – Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyampaikan duka cita atas berpulangnya Presiden ke-3 Republik Indonesia. Menteri Kominfo menyatakan Indonesia kehilangan seorang putra terbaik, bapak teknologi Indonesia.

“Innalillahi wainnailaihi rojiun. Semoga almarhum Bp BJ Habibie, Presiden ke-3 RI, husnul khotimah,” cuitnya dalam akun twitter @rudiantara_id, Rabu (11/09/2019).

Menurut Menteri Kominfo, Indonesia kehilangan seorang putra terbaik dengan prestasi yang diakui dunia dalam bidang teknologi, “Bangsa Indonesia kehilangan seorang putra terbaiknya, cendekiawan dan pemimpin, penuh teladan, jasa, dan prestasi yang diakui dunia,” tulisnya.

Menteri Rudiantara mengajak seluruh warganet untuk mendoakan almarhum BJ Habibie dengan membacakan surat Al Fatihah. “Kita bacakan Al Fatihah bagi almarhum,” tulisnya.

kominfo tweet rudiantara habibie - Duka Cita Menkominfo untuk Bapak Teknologi Indonesia

Bacharuddin Jusuf Habibie, pria kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 itu meninggal hari ini pukul 18:05 WIB di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Kabar meninggalnya BJ Habibie ini pun langsung menjadi topik utama di Twitter.

Lulusan studi teknik penerbangan, spesialisasi konstruksi pesawat terbang, di RWTH Aachen, Jerman Barat itu pernah bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm, sebuah perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman. Tahun 1973, Habibie kembali ke Indonesia atas permintaan mantan Presiden Soeharto, kemudian menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi sejak tahun 1978 sampai Maret 1998.

Ketika menjabat Menristek, salah satu gebrakannya adalah “Visi Indonesia” yang bertumpu pada riset dan teknologi, khususnya pula dalam industri strategis yang dikelola oleh PT. IPTN, PINDAD, dan PT. PAL. Targetnya, ketika itu, Indonesia sebagai negara agraris dapat melompat langsung menjadi negara Industri dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Puncak karier Habibie berlangsung pada tahun 1998, ketika diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia (21 Mei 1998 – 20 Oktober 1999). Dibawah kepemimpinannya, transisi reformasi Indonesia berjalan dengan baik yang ditandai tumbuhnya demokrasi di Indonesia.

Sumber :kominfo.go.id,12 September 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *